arei area OnLine On BlogSpotDotCom
Merasakan mati rasa
Akhir-akhir ini aku merasakan desir-desir pasir yang mengoyak hatiku, cabikannya begitu kasar dan menyisakan goresan getir nan perih. Dia begitu membingungkan untuk digambarkan dalam lirik yang menawan,dia begitu angkuh bak gunung yang enggan untuk sebintik pun runtuh oleh terpaan angin sepoi-sepoi.
Minggu kedua sejak peristiwa cukupkan sudah untuk bertahan dengan gurauan, tapi bibir ini seperti di tutup cawan hingga tak kuasa terbuka berucap melawan, aku seperti kaku dalam balutan tissue toilet yang sebenarnya mudah untuk aku robekkan begitu saja.
Saat ini aku sedang bermuram karena dia, ingin sekali aku mendengar angin yang tertawa lepas untuk saat ini, begitu lepas sampai aku pun ikut mengiringinya dan seketika aku terbang seperti burung camar atau merpati.
Hari itu aku pandang matanya yang genit, tak lagi memancarkan aroma memuja lagi. Dia seperti seorang jenderal yang sedang memegang sepucuk amunisi kemudian menembak tepat kejantungku hingga kemudian aku roboh didepannya sambil menggenggam jutaan tanya...mengapa dia berubah menjadi keji??? bagaimana aku dapat menjumpanya seperti dulu?? aku semakin berada dalam situasi yang memanjakanku dengan banyak tanya...tentang benarkah ia???
Jiwaku merasakan kekosongan yang penuh, ragaku mati rasa akan sentuhannya. Otakku hanya tertuju pada barisan pasir yang tertuang di hamparan jalan raya. Telingaku hanya mendengar bisikan angin yang ingin mengajakku menari riang gembira. Aku sungguh masih didalam dunia penuh dengan tanya...benarkah ia???
--------------------------------------------awib.web.id-------------
Rintihan seorang biadab kepada batinnya
semenjak mendiang kolonialisme mulai bangkit,
hatiku merasa sakit dan menjerit,
semenjak konspirasi pangkat mendongkrak najis,
hidup para kuli kian tragis menangis,
kilau pisau pedang meraung menyambar kilat,
ketika terlontar manis lidah para penjilat,
hembusan bau busuk tercium kian hangat,
saat para daging dan darah buruh tersayat,
betapapun penuh sesak ratapan pelitaku,
pelipur lara dalam diri hanyalah pelukan rindu,
penyegar sukma disaat pilu hanyalah bisu,
penjinak buasnya racun dunia adalah kalbu,
semenjak ratusan syairku menderu,
aku ingin waktu cepat berlalu,
semenjak ribuan problema mengekangku,
aku ingin waktu cepat berlalu,
Mencari Jalan
Akhir-akhir ini banyak hal yang terasa canggung, ketika suara bising mulai menghilang perlahan, rincian tawa yang memenuhi ruang utama semakin lirih terdengar. padahal tak kurang dari ratusan kali aku menyimak seiring detak detik jantung peristiwa itu. Saat ini saat lalu rasanya sudah semakin jauh berbeda, seperti tamparan yang menyadarkan dan membangunkanku lagi dari sekian lama aku salah mengerti tentang sosok waktu yang tak mungkin terelakkan oleh siapapun.
Berbagai metode telah dikerahkan untuk merobohkan kejayaan prinsip abadi, semua itu sia-sia belaka, bukan saling menyalahkan, melainkan seperti sebuah sinetron yang berjalan lurus tanpa aral menimpuk dari belakang, atas, samping kanan dan kiri. Semua seperti makian yang menghentakkan ragaku sehingga terpental dan terbangun dari alam mimpi yang panjang.
Setelah lebih dari dua dekade aku menjadi makhluk bumi yang setiap nafasnya di beri kesempatan untuk belajar, tetapi tidak semudah kata-kata mutiara yang tiba-tiba mencerahkan pembaca buku yang setia, lalu demikian hingga ia berubah dan menjadi makhluk superstar, itu terlalu mudah untuk di bayangkan, tetapi tidak semudah dijalankan. Aku, dia juga mereka seperti boneka yang belajar untuk hidup sendiri, padahal kita lebih dari seperti boneka, kita adalah roman yang terukir cerita panjang, kita adalah permata yang terlupakan ketika pasir laut menidurkan kita jauh kedalamnya..lalu tetapkah diam??BANGKITLAH!!!