"merasakan bisikan saksi bisu oleh malam pekat pengantar mimpi,.setiap detak tertiti penuh distorsi perubahan jejak tak terdefinisi,." begitulah rangkaian kata yang aku tuliskan di status facebook sepintas saja tergerak jari ku untuk menggoreskannya di situs jejaring sosial itu.
Saat perasaanku yang kurasa sampai tak terasa ,kekosongan yang terisi penuh, dan seakan menelan dan menenggelamkan sinar bulan, cahaya padam karena banyak serangga mengerubung sumber penerangan, sorak penonton bola kian menggelegar, tak cukup membuat hati dan pikiran tergerak untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
Kemarin "feels goes to zero again" aku letakkan perlahan di atas dinding facebook, aku perhatikan dengan ratapan misteri untuk mengerti apa yang sedang terjadi, hingga pagi kembali menyurati aku dengan sinar mentari aku belum menemukan definisi "zero", bukan hanya sekedar angka NOL,atau kekosongan belaka, tapi zero adalah sebuah fitrah untuk kembali menjadi suci, bukan alasan orang untuk tidak mau instropeksi, respect terberi mengalir begitu alami, dan terpatri dalam satu kondisi... "FREE".
13 June 2010
03 June 2010
Opera kecil dan unik
kali ini bukan untuk kesempatan berunding dengan ketidakpastian. sudah beruntun dan bergulir berulang-ulang terjadi, kompromi basi, teka teki konsolidasi tak ada arti sama sekali. Berbagai peran di mainkan dalam sebuah opera sederhana dalam bilik kecil tapi penuh terisi dengan raja sadis tengil juga dekil. Otak pecundang yang meracuni sang raja kian membuat porak poranda singasana yang terbungkus sutera.
Kasihan nasib sang raja ,dia merasa seperti raja abadi tak sadar akan kehidupan yang sebenarnya terjadi. Penuh dengan tipu daya penyihir tangan kanan dan kirinya. Hati rakyat kian tipis karena setiap hari tergesek dengan jalan pikiran yang disebut dengan konyol. Terus saja terjadi, tanpa mendengarkan ramalan sang begawan jujur.
Protes demi protes dilayangkan sang begawan, namun memang di jaman modern, penyihir lebih mahir dalam mengolah kata dan segala trik liciknya. Entah sampai kapan sang raja akan menyadari keteledorannya dalam menjalankan amanah. Dan sampai kapan penyihir licik akan binasa ditelan ludahnya sendiri. Begawan hanya ingin melanjutkan bertapa dipinggir aliran sungai yang mengalir biasa saja, sampai keajaiban tiba mengangkat nilai kejujuran di atas segalanya akan diakui oleh raja lalim yang pura-pura bijaksana itu. HuAllahi.
Kasihan nasib sang raja ,dia merasa seperti raja abadi tak sadar akan kehidupan yang sebenarnya terjadi. Penuh dengan tipu daya penyihir tangan kanan dan kirinya. Hati rakyat kian tipis karena setiap hari tergesek dengan jalan pikiran yang disebut dengan konyol. Terus saja terjadi, tanpa mendengarkan ramalan sang begawan jujur.
Protes demi protes dilayangkan sang begawan, namun memang di jaman modern, penyihir lebih mahir dalam mengolah kata dan segala trik liciknya. Entah sampai kapan sang raja akan menyadari keteledorannya dalam menjalankan amanah. Dan sampai kapan penyihir licik akan binasa ditelan ludahnya sendiri. Begawan hanya ingin melanjutkan bertapa dipinggir aliran sungai yang mengalir biasa saja, sampai keajaiban tiba mengangkat nilai kejujuran di atas segalanya akan diakui oleh raja lalim yang pura-pura bijaksana itu. HuAllahi.
23 April 2010
Renungan Low - Top Management
Pengorbanan..begitulah kata yang tepat untuk dijejalkan kedalam diriku. Begitu rasanya bergelut diantara golongan orang-orang pecundang, saling lempar dan begitu bangga mengangkat ketidakmampuan. Sebagai orang yang rela berkorban (masih ragu antara loyalitas dan rasa sabar). Sebuah pekerjaan yang tidak seharusnya dibebankan tapi justru malah menambah beban, sedangkan orang yang seharusnya melakukan pekerjaanya malah seperi orang TOLOL duduk memandang cermin kesombongannya sendiri. Inikah yang disebut merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Ironis, dan percuma mengeluhkan pada orang yang salah, karena tidak sepantasnya hal yang sudah jelas terlihat bobrok masih saja dibiarkan berkarat dan lusuh tersimpan di saku. Bagaimana sebutan bagi orang yang membiarkan orang TOLOL yang hanya bertengger di kursi empuk, dan beranjak jika mau PIPIS ato BERAK saja ??? Kesengajaan yang dikemas dalam bentuk tidak mau tau, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa pada keadaan sekitar itu semakin membuat otakku berpikir tentang apakah ini yang disebut merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Sedangkan jika RENUMERASI,APRESIASI,MATERI, diberikan kepada orang TOLOL itu dan semakin membuat si TOLOL berdendang amboy dan tetap duduk manis di kursi empuknya. Sungguh kasihan si pekerja hanya mendapat CACIAN saat dinilai tidak optimal bekerja, dan saat hasil menunjukkan peningkatan kata TERIMAKASIH pun tak kunjung tiba diterima si pekerja. masih saja aku ajukan pertanyaan tentang apakah ini yang disebut merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Sudah Tahun tahun lebih peristiwa itu terjadi sebagai kenyataan dan terbiarkan terus berkembang dan semakin dilestarikan, penilaian BAGUS dan PENGHARGAAN BERLEBIHAN pada golongan orang TOLOL, dan TANPA Penilaian apapun pada orang pekerja.Pantaskah ini disebut dengan merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Coba renungkan curahan kegelisahanku wahai Penjabat!!!karena sudah tugasmu lah untuk merasakan kegelisahan sekitarmu,dan mewujudkan keadilan itu benar benar terwujud sesuai dengan PORSInya masing-masing. Bukan ketimpangan yang kau biarkan terjadi dan semakin membuat VISI MISI Company mu terbingkai dengan rapuh. Sekali lagi renungkan tentang KEADILAN sebagai salah satu pendukung KEBERHASILAN.
Ironis, dan percuma mengeluhkan pada orang yang salah, karena tidak sepantasnya hal yang sudah jelas terlihat bobrok masih saja dibiarkan berkarat dan lusuh tersimpan di saku. Bagaimana sebutan bagi orang yang membiarkan orang TOLOL yang hanya bertengger di kursi empuk, dan beranjak jika mau PIPIS ato BERAK saja ??? Kesengajaan yang dikemas dalam bentuk tidak mau tau, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa pada keadaan sekitar itu semakin membuat otakku berpikir tentang apakah ini yang disebut merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Sedangkan jika RENUMERASI,APRESIASI,MATERI, diberikan kepada orang TOLOL itu dan semakin membuat si TOLOL berdendang amboy dan tetap duduk manis di kursi empuknya. Sungguh kasihan si pekerja hanya mendapat CACIAN saat dinilai tidak optimal bekerja, dan saat hasil menunjukkan peningkatan kata TERIMAKASIH pun tak kunjung tiba diterima si pekerja. masih saja aku ajukan pertanyaan tentang apakah ini yang disebut merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Sudah Tahun tahun lebih peristiwa itu terjadi sebagai kenyataan dan terbiarkan terus berkembang dan semakin dilestarikan, penilaian BAGUS dan PENGHARGAAN BERLEBIHAN pada golongan orang TOLOL, dan TANPA Penilaian apapun pada orang pekerja.Pantaskah ini disebut dengan merasakan hal yang adil dan memikul beban yang sama???
Coba renungkan curahan kegelisahanku wahai Penjabat!!!karena sudah tugasmu lah untuk merasakan kegelisahan sekitarmu,dan mewujudkan keadilan itu benar benar terwujud sesuai dengan PORSInya masing-masing. Bukan ketimpangan yang kau biarkan terjadi dan semakin membuat VISI MISI Company mu terbingkai dengan rapuh. Sekali lagi renungkan tentang KEADILAN sebagai salah satu pendukung KEBERHASILAN.
Subscribe to:
Posts (Atom)