Ada kalanya memang kejenuhan tentang apa yang telah kita kerjakan selama ini, yang kita anggap berarti dan kita gadang-gadang bisa menjadi pijakan untuk hari kelak penuh dengan hirarki yang kenyataannya cenderung kurang berjalan pasti. Membuat kita semakin tak menentu dalam menciptakan pikiran yang briliant, justru karena kondisi yang membuat kita terjerembab kedalam suasana yang menekan pikiran dan membuat kemrosotan fisik. Apa salah satu penyebabnya?? bila rekan-rekan sekalian pernah mengalaminya bisa jadi terjawab di artikel ini :
"Menyia-nyiakan Usia Dengan Bekerja Untuk Atasan Yang Salah"
Anak buah membayar pengabdiannya kepada atasannya, dengan usia.
Jika anak buah salah memilih atasan, dia telah menyia-nyiakan usianya.
Sebagaimana-besarnya pun keinginan seseorang untuk menjadikan Anda sebagai bawahannya,dan sebagaimana mendesak pun kebutuhan kehidupan Anda,
Anda tetap bisa menolak untuk bekerja di bawah kepemimpinan seseorang.
Jika dia tidak menghormati Anda,dan tidak memungkinkan Anda untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan terhormat, untuk apakah Anda berlama-lama bekerja di bawahnya?
Maka perhatikanlah, bahwa Bekerja untuk siapa, bisa menjadi lebih penting daripada yang Anda kerjakan.
Sahabat saya yang disayangi Tuhan, yang sama haknya bagi kesejahteraan dan kebahagiaan dengan siapa pun yang telah mencapainya.
Mudah-mudahan Tuhan menguatkan kita untuk berlaku setegas yang kita ketahui harus kita lakukan.
Jika bukan kita yang memutuskan bagi kebaikan hidup kita sendiri, siapakah yang kita tunggu untuk memutuskannya bagi kita?
Jika kita tidak memutuskannya segera, apakah masih banyak waktu yang boleh kita boroskan dalam keluhan dan perasaan sebagai korban?
Jika telah terbukti tidak ada kejayaan dalam keraguan dan ketakutan, mengapakah kita tidak mencoba mereguk janji hadiah bagi mereka yang ikhlas untuk berani?
Maka marilah kita menjadi jiwa-jiwa yang ikhlas memberanikan diri, untuk bekerja dalam kebaikan dan berharap hanya kepada Tuhan, bukan kepada orang yang tidak menghormati pengabdian kita.
Ingatlah...,
Bekerja untuk siapa, bisa menjadi lebih penting daripada yang Anda kerjakan.
By: Mario Teguh
Semoga bermanfaat untuk menjadi renungan kita bersama, jika kurang berkenan maka bukan saatnya kita berdebat untuk hal yang memang tidak diwajibkan untuk masing-masing dari kita meyakini suatu argument yang sama.Terimakasih.
13 July 2010
13 June 2010
Zero mean Free
"merasakan bisikan saksi bisu oleh malam pekat pengantar mimpi,.setiap detak tertiti penuh distorsi perubahan jejak tak terdefinisi,." begitulah rangkaian kata yang aku tuliskan di status facebook sepintas saja tergerak jari ku untuk menggoreskannya di situs jejaring sosial itu.
Saat perasaanku yang kurasa sampai tak terasa ,kekosongan yang terisi penuh, dan seakan menelan dan menenggelamkan sinar bulan, cahaya padam karena banyak serangga mengerubung sumber penerangan, sorak penonton bola kian menggelegar, tak cukup membuat hati dan pikiran tergerak untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
Kemarin "feels goes to zero again" aku letakkan perlahan di atas dinding facebook, aku perhatikan dengan ratapan misteri untuk mengerti apa yang sedang terjadi, hingga pagi kembali menyurati aku dengan sinar mentari aku belum menemukan definisi "zero", bukan hanya sekedar angka NOL,atau kekosongan belaka, tapi zero adalah sebuah fitrah untuk kembali menjadi suci, bukan alasan orang untuk tidak mau instropeksi, respect terberi mengalir begitu alami, dan terpatri dalam satu kondisi... "FREE".
Saat perasaanku yang kurasa sampai tak terasa ,kekosongan yang terisi penuh, dan seakan menelan dan menenggelamkan sinar bulan, cahaya padam karena banyak serangga mengerubung sumber penerangan, sorak penonton bola kian menggelegar, tak cukup membuat hati dan pikiran tergerak untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
Kemarin "feels goes to zero again" aku letakkan perlahan di atas dinding facebook, aku perhatikan dengan ratapan misteri untuk mengerti apa yang sedang terjadi, hingga pagi kembali menyurati aku dengan sinar mentari aku belum menemukan definisi "zero", bukan hanya sekedar angka NOL,atau kekosongan belaka, tapi zero adalah sebuah fitrah untuk kembali menjadi suci, bukan alasan orang untuk tidak mau instropeksi, respect terberi mengalir begitu alami, dan terpatri dalam satu kondisi... "FREE".
03 June 2010
Opera kecil dan unik
kali ini bukan untuk kesempatan berunding dengan ketidakpastian. sudah beruntun dan bergulir berulang-ulang terjadi, kompromi basi, teka teki konsolidasi tak ada arti sama sekali. Berbagai peran di mainkan dalam sebuah opera sederhana dalam bilik kecil tapi penuh terisi dengan raja sadis tengil juga dekil. Otak pecundang yang meracuni sang raja kian membuat porak poranda singasana yang terbungkus sutera.
Kasihan nasib sang raja ,dia merasa seperti raja abadi tak sadar akan kehidupan yang sebenarnya terjadi. Penuh dengan tipu daya penyihir tangan kanan dan kirinya. Hati rakyat kian tipis karena setiap hari tergesek dengan jalan pikiran yang disebut dengan konyol. Terus saja terjadi, tanpa mendengarkan ramalan sang begawan jujur.
Protes demi protes dilayangkan sang begawan, namun memang di jaman modern, penyihir lebih mahir dalam mengolah kata dan segala trik liciknya. Entah sampai kapan sang raja akan menyadari keteledorannya dalam menjalankan amanah. Dan sampai kapan penyihir licik akan binasa ditelan ludahnya sendiri. Begawan hanya ingin melanjutkan bertapa dipinggir aliran sungai yang mengalir biasa saja, sampai keajaiban tiba mengangkat nilai kejujuran di atas segalanya akan diakui oleh raja lalim yang pura-pura bijaksana itu. HuAllahi.
Kasihan nasib sang raja ,dia merasa seperti raja abadi tak sadar akan kehidupan yang sebenarnya terjadi. Penuh dengan tipu daya penyihir tangan kanan dan kirinya. Hati rakyat kian tipis karena setiap hari tergesek dengan jalan pikiran yang disebut dengan konyol. Terus saja terjadi, tanpa mendengarkan ramalan sang begawan jujur.
Protes demi protes dilayangkan sang begawan, namun memang di jaman modern, penyihir lebih mahir dalam mengolah kata dan segala trik liciknya. Entah sampai kapan sang raja akan menyadari keteledorannya dalam menjalankan amanah. Dan sampai kapan penyihir licik akan binasa ditelan ludahnya sendiri. Begawan hanya ingin melanjutkan bertapa dipinggir aliran sungai yang mengalir biasa saja, sampai keajaiban tiba mengangkat nilai kejujuran di atas segalanya akan diakui oleh raja lalim yang pura-pura bijaksana itu. HuAllahi.
Subscribe to:
Posts (Atom)